Ini adalah pertama kalinya saya pergi berdua saja dengan teman saya raras menjelajah suatu tempat yang belum pernah kami datangi dimana bahasa dan tulisannya juga sangat berbeda karena tulisannya bukan abjad atau alfabet yang kita kenal dan waktunya lebih panjang dari biasanya, kurang lebih sekitar 9 hari.
(Pagoda Putih)
Agar lebih mudah saya
akan membagi tulisan ini sesuai dengan tempat dan tanggal kami pergi sesuai
dengan itinerary yang telah kami jalani selama perjalanan (meskipun sebenarnya
banyak yang meleset dari itin yang kami buat hehehe ...).
CGK-KUL (12 Mei 2018)
Kami janjian di Terminal
3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta karena kami naik Air Asia yang masih menjadi maskapai
favourite kami sampai saat ini di Asia. Sampai bandara masih pagi dan masih
sempat untuk sarapan dan juga memperkirakan akan kemana saja begitu sampai di
Kuala Lumpur. Kemudian pada saat scanning sebelum cap paspor di Imigrasi, raras
sempat tertahan karena tasnya harus dibuka untuk di cek kembali oleh petugas
dan ternyata tidak ada masalah. Di Terminal 3 dari tempat setelah cek Imigrasi Gate
untuk naik ke pesawat lumayan jauh yaitu di ujung terminal 3 jadi kami minta
tolong petugas untuk mengantar kami takutnya kami ketinggalan pesawat dan
untungnya kakak petugas yang baik hati menolong kami sehingga kami sampai depan
gate dan masih ada waktu untuk menunggu boarding ke pesawat. Begitu nomor
penerbangan kami disebutkan kemudian tidak ada masalah dan kami pun terbang ke
Kuala Lumpur.
(Terbangnya pake maskapai favorit kami)
Landing di kuala lumpur tepatnya
di KLIA 2 (untuk semua penerbangan Air Asia di bandara ini) masih siang akan
tetapi cuaca mendung sepertinya akan turun hujan. Karena pesawat kami untuk
menuju tempat berikutnya berangkat sangat pagi akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling
dan bermalam di tengah kota Kuala Lumpur. Kami menggunakan bus (Sky Bus) untuk
sampai ke tengah kota. Untuk naik bus dari KLIA 2, kami harus berjalan ke ujung
dekat pintu masuk melewati toko-toko dan restoran kemudian turun satu lantai
sampai ketemu loket penjualan tiket bus. Namun sebelum itu saya mengambil
beberapa ringgit untuk bekal selama di Kuala Lumpur. Kemudian kami memesan bus
ke KL Sentral, dari KLIA ke KL Sentral membutuhkan waktu setidaknya 1 jam.
Sampai di KL Sentral kami
langsung membeli kartu My Rapid dari Touch n go yang dapat digunakan untuk naik
MRT, Bus (kecuali bus ke bandara) dan juga membayar tol. Setelah mendapat kartu
kami naik MRT ke daerah Bank Rakyat Bangsar Station. Sampai di MRT Station
Bangsar masih hujan dan kami memutuskan untuk makan makanan india di dekat
station, lumayan murah dan masih bisa dimakan. Kemudian lanjut berjalan kaki
sedikit menuju ke hostel (The bodhi hostel) tempat kami menginap. Kenapa
memilih hostel disini? Alasan kami cukup sederhana yaitu cukup dekat dengan KL
Sentral, karena subuh kami harus kembali ke KLIA 2 dan juga paling murah
meskipun kamarnya bisa dibilang lumayan pas-pasan, cukup hanya untuk tidur dan
menitip barang sementara. Sampai di hostel sempat di ajak berbincang dengan
sang penunggu hostel (lupa namanya), dia berbicara bahasa inggris yang cukup
fasih dan sempat mengobrol lumayan lama sebelum kami dapat masuk ke kamar
tempat kami menginap.
(Makan makanan India)
Karena sayang jika hanya
melewatkan waktu di hostel jadi kami naik grab dan menuju ke Thean Hou Temple.
Sampai disini sudah menjelang gelap namun masih dapat foto-foto di sekitar
kuil. Dan tidak menyangka senja hari di kuil ini punya vibe nya sendiri, di
dominasi warna merah dan keunguan indah sekali.
Traveling tanpa drama itu sepertinya agak mustahil dalam kasus perjalanan kami, nah setelah selesai berfoto di berbagai sudut tempat dengan berbagai gaya kami pun tidak menyadari satu hal bahwa “kuota internet” di negeri ini sangatlah berarti. Jadi sore itu kami kehabisan kuota internet sedangkan kami harus memesan grab untuk dapat kembali setidaknya ke KL Sentral. Sebenarnya kami sadar bahwa di kuil tersebut ada wifi tapi ketika bertanya kepada petugas yang berjaga di depan pintu masuk kuil, mereka pun tidak tahu password wifinya apa. Akhirnya kami duduk di depan tangga sambil mencoba berbagai cara yang akhirnya pun tetap tidak bisa untuk tersambung ke internet. Akan tetapi kami tidak patah arang, untungnya (masih ada untungnya ya dasar orang Indonesia) kami sempat mendownload peta Kuala Lumpur, jadi masih bisa di kira-kira seberapa jauh dari tengah kota. Setelah dilihat ternyata jaraknya 5 km berjalan kaki dari Thean Hou Temple untuk sampai ke KL Sentral. Dan iya akhirnya kami jalan kaki!
(Sunset dari Thean Hou Temple)
Traveling tanpa drama itu sepertinya agak mustahil dalam kasus perjalanan kami, nah setelah selesai berfoto di berbagai sudut tempat dengan berbagai gaya kami pun tidak menyadari satu hal bahwa “kuota internet” di negeri ini sangatlah berarti. Jadi sore itu kami kehabisan kuota internet sedangkan kami harus memesan grab untuk dapat kembali setidaknya ke KL Sentral. Sebenarnya kami sadar bahwa di kuil tersebut ada wifi tapi ketika bertanya kepada petugas yang berjaga di depan pintu masuk kuil, mereka pun tidak tahu password wifinya apa. Akhirnya kami duduk di depan tangga sambil mencoba berbagai cara yang akhirnya pun tetap tidak bisa untuk tersambung ke internet. Akan tetapi kami tidak patah arang, untungnya (masih ada untungnya ya dasar orang Indonesia) kami sempat mendownload peta Kuala Lumpur, jadi masih bisa di kira-kira seberapa jauh dari tengah kota. Setelah dilihat ternyata jaraknya 5 km berjalan kaki dari Thean Hou Temple untuk sampai ke KL Sentral. Dan iya akhirnya kami jalan kaki!
(Ditengah jalan ada sign kaya gini)
Kami jalan kaki melewati
jalan yang agak lumayan gelap karena minim penerangan, untungnya (masih ada
untungnya lagi) di KL tersedia jalur pejalan kaki alias pedestrian yang
mendukung. Kami berjalan kaki memutar melewati jembatan dan kemudian sampai di
Little India, disini kami membeli sim card agar bisa tersambung kembali ke
dunia maya. Setelah bisa online jaraknya tidak terlalu jauh untuk ke KL Sentral
dengan berjalan kaki. Sampai di KL Sentral kami sempatkan untuk makan malam
tapi karena beberapa tempat sudah tutup jadinya malah membeli buah kiloan untuk
camilan. Rencana kami selanjutnya adalah mengunjungi Chinatown di Petaling
Street. Untuk sampai kesana kami naik MRT sambil ngobrol tentang rencana besok
subuh harus jalan dari hostel jam berapa. Dan apa yang terjadi?
Kami salah naik kereta ke
Petaling Station di kampung pasir yang mana itu berlawanan arah dari Petaling
Street yang ada di Chinatown. Begitu sampai di station yang kami lihat adalah
seperti sebuah stasiun kereta di Pamulang, sepi dan tidak ada apa-apa..
Dan si raras pun bengong
dan ketakutan katanya “ini kita kaya di stasiun sudimara ga sih? takut di culik
gangster gw, tambahnya!”
Karena kapok keluyuran
kurang jelas, akhirnya kami memutuskan untuk pesan grab car (untung sudah bisa
online) dan memutuskan untuk kembali ke hostel saja, bersih-bersih kemudian tidur
yang mana sampai di hostel pun sudah hampir jam 1 pagi.
Ternyata sampai di hostel
pun masih belum bisa tidur karena harus packing persiapan untuk terbang lagi,
namun setelah selesai akhirnya bisa mandi dan tidur sebentar.
KUL – YGN (13 Mei 2018)
Terbangun dengan alarm
yang berbunyi dari Handphone sungguh membuat kami kaget dan harus segera
bersiap pesan grab car untuk kembali ke KL Sentral (karena jam setengah 4 pagi
MRT belum beroperasi). Sampai di KL Sentral kami langsung turun ke Basement dan
memesan tiket bus. Bus sudah tersedia dan kami pun berangkat menuju KLIA
kembali.
Penerbangan kami dari
KLIA pukul 06.50 membuat kami agak terburu-buru mengingat bandara ini lumayan
sibuk dengan antrian yang cukup panjang, takutnya ketinggalan pesawat. Benar
saja antrian sebelum check in lumayan panjang dan yang membuat panjang adalah
barang bawaan “harus ditimbang” menggunakan timbangan manual. Dari kejauhan
terlihat beberapa orang yang kopernya di timbang melebihi kapasitas (7 kg) dan
harus membayar untuk biaya bagasinya. Kami pun harus kembali mengatur strategi
untuk kembali mengeluarkan isi koper kurang dari 7 kg. Ini adalah sebuah trik
dimana barang-barang dari koper kami pindahkan ke backpack, karena tas gendong
tidak ikut ditimbang kecuali kalo kamu bawa tas carrier yang sudah jelas perlu
ditimbang. Untung saja (Indonesian style) kami masing-masing membawa koper dan
juga tas punggung jadi untuk urusan check in dan imigrasi aman. Setelah melewati
antrian check in panjang dan juga imigrasi di KLIA akhirnya bisa duduk nyaman
di bangku pesawat dengan masih mengantuk kami pun terbang lagi menuju ke
Yangon.
Tiba di Yangon lumayan cepat karena penerbangan hanya
memakan waktu kurang dari dua jam. Kesan pertama sampai di Bandara Yangon
lumayan bersih dan juga tertib mengingat low season jadi tidak banyak turis
yang datang saat itu. Begitu keluar dari imigrasi kami langsung mengambil uang
Kyat dari ATM terdekat, karena melihat ada logo mastercard saya langsung
bertransaksi melalui ATM. Nah pas ngambil uang ini ternyata ATM nya duitnya
habis jadi gak keluar duitnya tapi saldonya kepotong, sementara Raras juga
nyoba ga keluar duitnya tapi gak kepotong saldonya hadeehhhh ada-ada aja.
Karena bakal butuh banget uang Kyatt jadi harus nuker semua uang Ringgit yang
tersisa di tambah uang tarikan Raras di bagi dua dulu baru itung-itungannya
belakangan, kita sih sepakatnya begitu. Setelah urusan keuangan lanjut beli
simcard yang logonya berwarna merah nah ini yang paling murah paketannya di
Myanmar. Sudah punya simcard dan bisa online saya masih belum menyerah untuk
memperjuangkan uang saya yang masih gantung apakah benar sudah ketarik saldonya
atau belum. Jadi kami kemudian browsing dan pesan grab menuju ke tengah kota
Yangon untuk mencari bank dengan logo berwarna merah ini.
Gak lama pesan grab kemudian datanglah sang driver yang
lumayan bisa berbahasa inggris. Kemudian dia mengantar kami sampai di tengah
kota tepatnya di tower Sakura gak jauh dari Pagoda Swedagon. Sampai di sana
bayar kemudian masuk eh ketemu satpam kata satapnya Bank nya ga buka ATM nya
juga ga ada, kebayang kan bengongnya muka saya gimana? Terus uang saya gimana?
Masih harap-harap cemas tapi saya percaya aja bahwa mungkin
duit saya emang nyangkut dan mau diurus nanti begitu sampai di Jakarta karena
perjalanan saya masih sekitar seminggu lagi.
(Provider yang dipilih selama di Myanmar)
Karena panik dan sebagainya sehingga ga sempet sarapan jadi
kami cari makan di sekitaran tower ini, tapi ga ada satu pun tempat makan yang
saya atau pun Raras pengen makan disana meskipun berjejer rumah makan di
sekitaran itu, kenapa?
1. Tidak mengerti bahasa ataupun tulisannya
2. Dilihat dari menunya tidak ada yang menggugah selera
3. Masih meragukan kehigienisan dan suasana di dalam tempat makan
Jadinya malah pilih masuk ke Mall dan ini masih geret-geret
koper. Dan untuk sampai ke Mall itu nyebrang geret-geret koper emang butuh
usaha yang ekstra ribet ya dimana semua orang yang menggunakan kendaraan disini
kurang punya sabar dan lebih punya telinga yang kuat karena suka banget pake
klakson. Akan tetapi ketika masuk ke dalam Mall lumayan dingin dan bisa
menghibur diri sebentar. Kemudian kami makan nasi ayam hainam yang terkenal itu
dan cukup murah terus dapet minum lagi, restorannya terdapat di basement mall
ini di sebelah pojokan.
Keluar dari Mall tadinya masih bingung mau mengunjungi apa
dulu soalnya Raras bilang; “Bul kayanya kita ga usah ke Swedagon deh, soalnya
temen gw bilang kita bakal mabok candi di Bagan jadi coba cari tempat lain deh!”
dan saya pun setuju aja karena belom pernah ke Swedagon ataupun candi manapun
disini. Setelah browsing kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di tempat
unik bernama Karaweik Palace dan langsung memesan grab menuju ke sana.
(Swedagon dari depan Sule Sangrila)
Sampai di Karaweik Palace ternyata ini lebih bagus dari yang
kami kira loh, unik banget. Diantar sama bapak grabnya sampai ke loby ternyata
Karaweik Palace ini adalah sebuah restoran terapung di pinggir danau kandawgyi yang
menyerupai kapal dengan burung-burung Karaweik emas yang indah. Di dalam
Karaweik Palace terdapat restoran dengan interior yang mewah ala kerajaan dan panggung
pertunjukan musik atau tarian di ujung ruangan. Menu yang disajikan ada
beberapa menu otentik khas burma dan juga menu lainnya yang juga masih
terhitung murah harganya. Raras memesan teh dan roti dan saya memesan Ice Cream
Banana split karena sebelumnya kami sudah makan. Disamping menikmati sajian
khas restoran ini kami juga berkeliling untuk berfoto juga. Tempat ini sangat
unik sekali, arsitektur yang khas Burma dan desain berbentuk kapal dengan
Burung di depannya menjadikan tempat ini seperti ikon dari danau Kandawgyi yang
terkenal di Myanmar.
Kami banyak menghabiskan waktu di tempat ini, sudah
berkeliling, sudah foto-foto sampai akhirnya kami gak enak sama para pramusaji
di sini dan segera beranjak ke luar. Sudah sampai di loby restoran baru jam 2
siang padahal bus yang berangkat menuju tujuan kami berikutnya baru akan
berangkat pukul 7 malam jadi masih banyak waktu sekali di Yangon ini. Tapi
karena kami malas untuk geret-geret koper maka bersantai di pinggir danau
adalah pilihan kami berikutnya. Ternyata pinggiran danau ini lumayan teduh
untuk sekedar piknik gratis disini. Ditemani semilir angin, burung-burung yang
berterbangan, suara gitar dan nyanyian pemuda setempat dan pasangan muda yang
lagi cekikikan berduaan, saya cuman bisa selonjoran sambil foto-foto sementara
si Raras lagi sibuk ngecat kukunya pake kutek. Katanya mumpung matahari lagi
bagus buat berjemur. Sambil menunggu kukunya si Raras kering ternyata kelihatan
Pagoda Swedagon yang terkenal itu dari sisi dimana kami bersantai sejenak,
mungkin kalau malam pemandangan dari sini akan lebih bagus karena Pagoda dan
Karaweik ini pasti meriah disinari cahaya lampu.
(Karaweik Palace)
(Meramu Tanaka)
(Banana Split ala Karaweik)
Berada di tengah kota Yangon sepertinya cukup membuat kami Shock Culture dimana banyak orang disini gak seperti yang kami lihat sebelumnya, seperti;
- Hampir semua orang pake sarung cowok cewek tua ataupun muda sepertinya ini memang udah budaya dasarnya mereka ini keren sih menurut saya.
- Hampir semua orang pipinya, jidatnya bedak atau masker gitu dan sepertinya make masker gini ya random aja gitu ga ada aturan bakunya, cuman karena semua orang pake ya mereka ga akan malu, coba kalo saya pake gini di Jakarta yang ada dikirain wong gendeng kali.
- Dimana-mana banyak bercak merah seperti darah gitu, jadinya kita mikir ini apa hobi banget tawuran sampe banyak terjadi pertumpahan darah gini.
- Bunyi klakson dari kendaraan umum maupun pribadi, roda dua ataupun empat sepertinya sama-sama tidak ada yang mau sabar, mungkin karena cuaca yang panas? Atau karena situasi hati? Atau karena emang udah budaya ya? Saya ga tau karena ga pernah nanya-nanya juga sama orang sini sih.
Yangon – Bagan (14 Mei 2018)
Bermalam di Bus JJ Express lumayan menyenangkan, kami di
bantu untuk mencari nomor kursi yang di tandai dengan stiker yang menempel di
baju kami, kemudian untuk tempat duduknya harus sesuai juga dengan stiker yang
kami bawa. Pelayannya ramah, kami juga diberikan air mineral, 2 bungkus roti
(satu asin dan satu manis), bantal dan juga selimut. Tempat duduk kami pun 2 –
1 jadi cukup luas untuk ukuran bus besar begini, mungkin kalo di Indonesia
setara dengan bus Excecutive Big Top ya. Di belakang jok kursi ada sebuah
monitor kecil untuk menonton siaran ataupun mendengarkan lagu, namun ketika
saya mencoba-coba masih belum ketemu juga lagu yang bener dan kemudian
dimatikan alias gak kepake. Di awal perjalanan Bus JJ Express ini menayangkan
siaran lokal yang tentu saja bahasanya saya bener-bener gak ngerti tapi
orang-orang di depan saya sangat serius memperhatikan ceritanya seketika itu
juga saya tau kalo siaran itu adalah sinetron, dan saya sama raras malah ketawa
juga gara-gara ternyata main sinetron pake sarung itu ribet banget, pake sarung
lari-lari duh ga pernah kebayang adegan kaya begitu hehehe ...
Selama perjalanan yang cukup jauh karena menempuh waktu semalaman tentu saja kami habiskan waktu dengan ngobrol, curhat ngalor-ngidul sambil pesen hotel untuk malam berikutnya di tujuan kami setelah Bagan (Percayalah kami pesen hotel di Bagan juga dadakan pas sampe di hostel kuala lumpur). Di kiri dan di kanan kami hanya hutan gelap yang tidak ada penerangan, pantesan aja bus ini melaju cukup kencang mengingat jalanan sangat sepi. Mendekati jam 11 malam bus JJ Express ini pun tiba di rest area. Kami ga tau nama rest areanya apa karna tulisannya juga tidak dalam abjad dan sinyal juga ga ada. Di rest area ini kami diharuskan untuk turun semua dan tidak ada yang boleh duduk di dalam bus selama istirahat di rest area ini. Sebelum turun di pintu kami di berikan tissue dingin (iya dingin karena tissuenya beku), tissue ini digunakan untuk menyeka wajah dari wajah yang masih ngantuk, halah! Nyaman banget karena tissuenya cukup lembut dan malah tidak seperti tissue justru seperti handuk teksturnya. Setelah kami turun kemudian menuju ke toilet untuk pipis sebentar, karena tidak ada sinyal HP terpaksa kami harus saling menunggu sementara yang lain pergi ke toilet karena raras parno kalo salah naik bus nanti bisa ditinggal katanya. Sebenarnya malam itu kami cukup lapar mengingat di Yangon kami hanya makan KFC saja dan ini sudah larut malam. Namun lagi-lagi di tempat seperti rest area ini pun kami belum punya selera untuk mencoba makanan lokal.
Setelah menunggu sekitar setengah jam di depan bus (karena raras insecure kalo beneran ditinggal sama busnya) akhirnya kami diperbolehkan kembali ke bangku kami di dalam bus yang sudah di bersihkan. Wow benar-benar pelayanan prima bus ini, meskipun harganya juga tidak murah sih, namun pelayanannya cukup oke punya lah. Tidak lama kemudian lampu di dalam kabin bus pun di matikan jadi ini saatnya kembali tidur, bus pun melaju ke tempat tujuan kami di Bagan.
Tengah malam kami dibangunkan untuk beristirahat di rest area yang bahkan kami pun gatau dimana, begitu kami turun dari bus diberikan semacam tissue basah yang dingin dan menyegarkan. Kami pun diberikan waktu setengah jam untuk ke toilet dan juga makan. Tapi karena ga yakin dengan makanan yang ada di menu (kurang menggugah selera dan lebih pengen lanjut tidur) jadi setelah keluar dari toilet kami hanya menunggu di depan bus takut ditinggal juga.
(suasana di rest
area)
BAGAN (15 Mei 2018)
Sampailah kami di tempat kami menginap di Bagan selama dua
hari satu malam, tempat yang beruntung itu adalah Six Star Guest House dekat
Nyang-U, alasan kami memilih di tempat ini adalah reviewnya yang lumayan bagus.
Kami sampai pagi dan memang belum waktunya untuk check in, namun karena
keramahan dan memang bukan high season kami diijinkan untuk early check in dan
langsung diantarkan menuju kamar di lantai tiga. Kamarnya pun cukup luas dengan
dua tempat tidur, lemari, tv dan kamar mandi yang cukup luas dan bersih. Untuk
keesokan paginya kami juga mendapatkan makan pagi (yang akhirnya ga jadi
dimakan karena subuh harus banget bangun buat sunrise).
(Kamar Sixstar Guest
House)
Setelah diperbolehkan untuk early check-in kami pun istirahat
dan juga mandi, setelah itu saatnya kami mulai menjelajah Padang Bagan yang
lumayan panas hari itu. Agar lebih gampang kesana-kemari di Bagan kami pun
menyewa motor dan ternyata di depan Guest House ada penyewaan motor, tapi yang
di gunakan di sekitar Bagan hanya ada e-bike yang ramah lingkungan. Tentang
e-bike ini;
- Harganya mulai dari 5000 sampai dengan 7000 MMK (Myanmar Kyat dibacanya cat).
- Cara pake nya sama dengan pake skuter matic, tinggal gas aja
- Tanpa polusi dan suara berisik dari mesinnya
- Baterainya bisa diisi ulang, jadi kalo baterainya habis di tengah gurun yaudah wasalam hahaha (engga deng tinggal telepon pihak penyewa nanti ada bala bantuan datang yakale mau diakalin charge pake power bank!
(ini dia e-bike nya
keren kan)
Dan saatnya kami menjelajah alam Bagan yang indah banget
luar biasa. Nah tempat pertama banget yang kami kunjungi adalah Aurem Bagan
Resort , dimana ini adalah salah satu bucket list atau destinasi wajib kami
kalau ke Bagan. Nah setelah mencari berkeliling dengan Google map akhirnya
sampai juga di papan bertuliskan Aureum, ya hanya itu saja penunjuk arahnya
tapi kami ikuti dan kami tidak sengaja menemukan pemadangan seperti di bawah
ini;
(kece ya)
Dan ternyata itu hanya halaman luarnya saja. Dan kami pun memutuskan
untuk masuk ke dalam resort tepatnya di pinggir kolam renang yang punya
pemandangan luar biasa ini;
(keren kan kolam
renangnya)
Yeay salah satu bucket list kami terpenuhi, Thank God
senengnya ga kira-kira loh. Karena cuaca siang itu sangat panas kami memutuskan
untuk tidak berenang (padahal emang ga boleh berenang kalo bukan tamu resort
sini jadi ya kami beli jus aja sambil minum di pinggiran ujung kolam yang
pemandangannya ajib luar biasa.
Lumayan lama kami menikmati pemandangan disini tapi makin
lama makin panas dan kemudian sadar kalo Bagan itu masih luas dan masih banyak
banget tempat yang mesti di jelajahi. Nah berbekal sepeda motor listrik dan
juga peta dari Google Map yang sudah kami download di hotel sebelumnya sehingga
petanya bisa dipakai meskipun dalam keadaan offline atau tidak tersambung
dengan jaringan Internet (ini sangat penting jika kamu berada di daerah yang
terpencil).
(Jalan off Road di Bagan)
Begitu keluar dari Aurem Resort langsung kami belok ke kanan dan kemudian berkeliling
menuju satu candi dan yang lainnya. Kesan yang kami rasakan sepanjang hari
berkeliling di Old Bagan adalah:
- Bagan merupakan daerah sabana yang kering dan berdebu, jadi siapkan peralatan seperti masker, kacamata, jaket atau pasmina yang melindungi kamu dari debu dan juga terik matahari (jangan lupa juga pakai sunblock untuk mencegah kulit kamu terbakar matahari).
- Candi tersebar di berbagai tempat ada yang lokasinya mudah di jangkau dari jalan utama ada juga yang masih tersembunyi, bentuk candi rata-rata hampir sama tapi pasti mempunyai keunikan masing-masing dan namanya pun berbeda-beda, aku bahkan ga hapal satu per satu namanya, namun untuk candi besar yang terkenal ada beberapa seperti Ananda Temple, Damyangyi Temple dan sebagainya (Favorit aku Ananda Temple).
- Untuk mencapai candi yang agak tersembunyi sebaiknya berhati-hati karena Old Bagan masih merupakan daerah dengan satwa liar yang masih hidup bebas, kita ga pernah tau bakal ketemu kalajengking ataupun ular di sekitar candi jadi harap selalu waspada.
- Banyak scam, iya ini bener banget bakalan banyak orang yang akan menawarkan jasa sebagai guide di sekitar Bagan. Mereka bahkan tidak segan untuk bertanya dari mana asal kalian dan langsung menawarkan untuk mengantarkan kalian ke candi rahasia (maksudnya adalah candi yang bisa naik ke atap untuk melihat pemandangan sekitar dari atas candi, biasanya pada saat sunrise ataupun sunset).
- Candi adalah sebuah tempat yang sakral dan masih digunakan untuk beribadah sampai saat ini dan di semua candi setiap orang yang masuk diharuskan untuk berpakaian sopan dan membuka alas kaki.
(Ananda Temple)
Setelah berkeliling cukup lama sampai di Ananda Temple
akhirnya kelaparan dan harus cari makan siang. Dari trip advisor kami menemukan
tempat makan yang murah dan enak tempatnya ada di belakang Ananda Temple. Tempatnya
memang sangat sederhana akan tetapi pelayanannya cukup memuaskan. Begitu sampai
kami langsung disambut dengan tissue dingin dan juga welcome snack, kemudian
memilih menu makan siang. Kemudian makanan khas Myanmar yang kami pesan datang
rasanya cukup unik tapi masih masuk lah untuk lidah Indonesia kami. Selain itu
juga dapat pelengkap seperti buah dan air putih. Kami pun berkenalan dengan
pemilik tempat makan ini, Ten zin namanya sangat ramah dan mahir berbahasa
Inggris jadi kami tidak kesulitan untuk berkomunikasi, bahkan Ten zin pun
mengajarkan kami beberapa bahasa dasar Myanmar seperti “Ci zu bah” yang berarti
terima kasih, “Pe lau leh” yang berarti berapa? Dan juga “Di meh” yang berarti
permisi :)
(Makan siang di Khaing Shwe Hwa)
Dan kami pun berkeliling seharian penuh sampai saat sunset
pun hampir tiba, dari blog yang dibaca kami mencoba untuk mengikuti saran bahwa
ada spot sunset yang sangat bagus tidak jauh dari Damyangyi temple. Kami pun
bergegas kesana dan agak kecewa karena hari itu langit sedang mendung, kami pun
menunggu dan apa yang terjadi, menjelang matahari pada posisi tenggelam langit
pun terbuka memancarkan cahaya matahari berwarna jingga di penghujung horison
yang sangat indah, satu lagi pengalaman Sunset terindah dalam hidup saya.
(sunset at Bagan)
(Magnificent Sunset at Bagan)


